Produk Agrokomplek Natural Nusantara Berbasis Teknologi Organik

Dengan aplikasi produk dari PT Natural Nusantara pada komoditas agro yang Anda kelola, akan membantu meningkatkan produktivitas hasil panen sesuai konsep K3 (Kualitas, Kuantitas, dan Kedlestarian). Buktikan!

Natural Nusantara Solusi Peningkatan Agro Indonesia

Dengan dukungan aplikasi produk berbasis teknologi organik akan memberikan hasil lebih baik pada budidaya pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan di Indonesia. Buktikan segera!

Produk Natural Nusantara Untuk Mengoptimalkan Hasil Peternakan

Aplikasi produk Natural Nusantara sudah banyak dibuktikan para peternak untuk optimalisasi hasil peternakan di Indonesia, baik ternak besar (sapi, kerbau, kuda, dll) maupun ternak unggas. Giliran Anda untuk membuktikannya sekarang juga!

Produk Natural Nusantara Terbukti Efektif Meningkatkan Produktivitas Perikanan di Indonesia

Banyak pelaku agro, khususnya di bidang perikanan di Indonesia yang telah membuktikan keunggulan produk Natural Nusantara guna membantu meningkatkan produktivitas hasil panen perikanan. Bagaimana dengan Anda? Coba dan buktikan sekarang juga!

Natural Nusantara dari Indonesia untuk Dunia

Produk Natural Nusantara adalah 100% karya anak bangsa yang sudah terbukti keunggulannya, Kini dari bumi Indonesia Produk Natural Nusantara merambah menuju dunia.

Rabu, 29 Januari 2014

TEKNIS BUDIDAYA JAGUNG

BUDIDAYA JAGUNG


I. PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Syarat benih
Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam).

B. Pengolahan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

C. Pemupukan





Waktu



Dosis Pupuk Makro (per ha)






Dosis POC
NASA


Urea (kg)



TSP (kg)



KCl (kg)


Perendaman benih



-



-



-



2 - 4 cc/ lt air


Pupuk dasar



120



80



25



20 - 40 tutup/tangki
( siram merata )


2 minggu



-



-



-



4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram)


Susulan I (3 minggu)



115



-



55




-


4 minggu



-



-



-



4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )


Susulan II (6minggu)



115



-



-



4 - 8 tutup/tangki
( semprot/siram )


Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis ± 1 botol/1000 m2 dengan cara :
- alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
- alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan.

D. Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan :
a. Tumpang sari ( intercropping ),
melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.
b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ),
dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.
c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ):
pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) :
penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen < 80 hari, jarak tanamnya 20x50 cm (1 tanaman/lubang). Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu.

E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

4. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.

F. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA
b. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI.

2. Penyakit
a. Penyakit bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO

b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO

c. Penyakit karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO.

d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA .

e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

G. Panen dan Pasca Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.

2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

4. Pengeringan
Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering.

5. Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

6. Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
INFO DAN PEMESANAN PRODUK AGRO NASA:082138128114 / 081904269636 WSPP:88806018424 BB 313061C3
Foto
Foto
Foto
Foto

TIPS MENGHITUNG PAKAN IKAN VERSI NASA

TIPS MENGHITUNG PAKAN IKAN VERSI NASA
=======
Jumlah pakan ikan per hari secara teknis adalah 3% dari bobot total ikan (biomas) yang ada di kolam pada saat itu. Sebagai contoh jika jumlah bibit ikan yang ditebar 10.000 dengan bobot rata-rata 100 gram, dengan asumsi tingkat kehidupan 80%, maka jumlah pakan yang diperlukan per hari adalah :

- Jumlah ikan = 80% X 10.000 = 8.000 ekor

- Berat ikan di kolam (biomas) = 8.000 X 0.1 = 800 kg

- Jumlah pakan = 3% X 800 = 24 kg per hari

Dalam prakteknya, jumlah pemberian pakan disesuaikan dengan kemampuan makan ikan pada saat itu. Untuk pakan yang tenggelam harus dicek dengan anco (semacam ayakan). Caranya dengan menaruh kira-kira 10% dari pakan yang ditebarkan dalam anco tersebut, dalam waktu tertentu anco diangkat. Jika pakan dalam anco habis, berarti jumlah pakan yang ditebarkan sesuai dengan kemampuan makan ikan, namun jika masih sisa maka pakan yang ditebarkan terlalu banyak sehingga perlu dikurangi. Untuk pakan terapung pengamatan akan lebih mudah dengan melihat respon ikan terhadap pakan yang ditebar

--------------------------------------------------------------------
informasi dan pemesanan produk pupuk Nasa: 082138128114 / sms,wspp:88806018424 BB 313061c3

NASA Penyelamat Modal PETANI


KERONTOKAN BUAH & BUNGA SANGAT KECIL

Pertumbuhan tanaman yang subur dan sehat merupakan harapan Bp. Sukemi yang telah lama berkecimpung dalam hal bertanam cabai. Awalnya ia hanya sekedar mencoba produk pertanian PT. NASA seperti POC NASA dan Hormonik. Bp. Sukemi mulai menggunakan POC NASA dan Hormonik ketika tanamannya menginjak usia 15 hari dan dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan pertama yang terdiri dari ZA, KCl dan TSP. Pemberian POC NASA dan Hormonik dilakukan dengan cara disemprotkan pada tanaman. Dosis yang diberikan : POC NASA 40 cc + Hormonik 10 cc dicampur dengan air 14 liter. Perlakuan yang sama dilakukan pada usia tanaman 30 hari, 45 hari, 60 hari sampai dengan sekarang menginjak umur 70 hari, dengan ketinggian tanaman mencapai 1,5 meter - 2 meter.

Menurut pengakuannya, ia sangat senang melihat tanaman cabainya tumbuh dengan sehat dan subur. Pertumbuhan tanaman yang cepat, daun yang hijau segar, buah dan bakal bunga yang semakin hari semakin banyak dan lebat, dan yang paling menggembirakan dirinya adalah persentase daya rontoknya kecil sekali pada buah dan bunganya. Padahal diakuinya, dulu sebelum menggunakan produk pertanian PT. NASA persentase rontoknya buah dan bunga mencapai 25% hingga 30%, selain itu juga tanaman tidak begitu sehat dan subur. “Produk Pertanian PT. NASA memang terbukti mampu menyuburkan dan memberi efek positif pada tanaman cabaiâ€, ujarnya mengakhiri

konsultasi & pemesanan
agen/distributor Resmi NASA
Hub 081904269636 / 082138128114/ BB313061C3

KONSEP PHT & NASA SEBAGAI PROSES PEMBERDAYAAN PETANI

KONSEP PHT & NASA SEBAGAI PROSES PEMBERDAYAAN PETANI
--------------------
Kita pasti setuju bahwa †PETANI â€, merupakan Tiang Agung Negara Indonesia atau penyangga yang besar bagi bangsa Indonesia. Karena Petani merupakan bagian terbesar produsen pangan dan produk-produk pertanian lainnya, yang seharusnya memegang peran dan pelaksana utama pembangunan pertanian di negara Indonesia yang agraris. TETAPI apa yang terjadi sampai detik ini, Petani dan masyarakat pedesaan dalam posisi yang marginal dan memprihatinkan. Petani belum ditempatkan sebagai subyek atau penentu keputusan kegiatan pembangunan pertanian namun tetap sebagai obyek pembangunan pertanian yang secara nasional dirancang dan dilaksanakan oleh Pemerintah, bersama dengan segala jajaran dan petugasnya, serta didukung oleh mitra kerja Pemerintah termasuk dunia usaha dan dunia pendidikan dan penelitian. Banyak jenis program dan proyek pemberdayaan petani telah dilaksanakan oleh Pemerintah, melalui Departemen Pertanian dan departemen lainnya, namun program-program tersebut masih terpusat pada ketergantungan petani pada Pemerintah. Pola pemberdayaan masih satu arah dengan inisiatif dan pelaksana program adalah Pemerintah dengan para petugas lapangannya. Program pemberdayaan petani kurang bersifat partisipatoris sehingga kurang efektif dalam membebaskan petani dari berbagai bentuk cekaman dan tekanan yang menekan kehidupan mereka.

Penerapan secara luas dan seragam program ketahanan pangan nasional yang bertumpu pada teknologi pertanian konvensional membuat petani dan kelompok tani semakin tidak berdaya, tidak mandiri dan tidak percaya diri. Mereka sangat tergantung pada uluran tangan pihak-pihak lain terutama pemerintah, pengusaha dan peneliti. Dengan ketergantungan tersebut berbagai potensi, aktivitas, kreatifitas dan kearifan petani menjadi tersumbat dan tidak dapat dimanfaatkan untuk pembangunan bangsa. Berbagai kendala yang dihadapi petani yang meliputi kendala internal seperti keterbatasan bibit, air, pupuk, pestisida, modal, pengetahuan dan teknologi serta kendala eksternal seperti akses pasar, penetapan harga, perubahan iklim dan lain-lainnya telah digunakan oleh Pemerintah sebagai alasan melakukan intervensi dalam proses pengambilan keputusan petani dalam mengelola lahannya sendiri yang terbatas. Ketergantungan petani pada Pemerintah, pengusaha sarana produksi serta rekomendasi peneliti membuat petani semakin tidak mampu dan tidak berani mengambil keputusan yang terbaik dalam mengelola produksi pertanian yang sesuai dengan keberadaan dan potensi mereka sendiri yang sangat khas lokal. Petani sampai saat ini masih dianggap sebagai obyek berbagai program dan proyek pembangunan pertanian. Bagi pengusaha petani dianggap sebagai pasar potensial banyak jenis produk-produk industri pertanian seperti benih, pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian. Bagi sebagian peneliti, petani dianggap sebagai obyek kegiatan penelitian serta sebagai pengguna akhir hasil kegiatan atau proyek penelitian yang dilaksanakan atas biaya dari lembaga pemerintah atau swasta sesuai dengan "pesan-pesan" tertentu.

Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu melaksanakan program pelatihan petani PHT melalui kegiatan SLPHT (Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu) dengan menerapkan pendekatan partisipatoris dan prinsip petani belajar dari pengalaman telah menghasilkan harapan bahwa petani dapat mandiri, percaya diri dan lebih bermartabat sebagai manusia bebas dalam menentukan nasib dan masa depan mereka. Program pelatihan SLPHT dapat menghasilkan para alumni yang mampu melakukan kegiatan perencanaan dan percobaan untuk memperoleh teknologi budidaya tanaman yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi lokal dan kebutuhan petani yang spesifik. Setelah petani menyelesaikan satu periode SLPHT (disebut "alumni" SLPHT) banyak pengalaman, pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan coba-coba yang mereka peroleh di SLPHT kemudian diterapkan dan dilanjutkan di lahan sawahnya masing-masing. Dalam menerapkan berbagai prinsip dan teknologi PHT para petani alumni SLPHT selalu melaksanakannya secara terpadu, holistik dan berkelompok dalam kelompok taninya masing-masing. Hasil positif yang dirasakan petani setelah melalui pengalaman bertahun-tahun, para alumni SLPHT merasa semakin mampu menyelesaikan berbagai permasalahannya selama ini secara mandiri.

Sejak penyelenggaraan SLPHT, banyak konsep dan teknologi yang ditemukan sendiri oleh petani alumni SLPHT di banyak propinsi dan pada banyak komoditi pertanian (pangan, hortikultura, perkebunan). Beberapa teknologi kreasi petani dapat menghasilkan keluaran yang secara ekologi dan ekonomi lebih baik daripada teknologi hasil para peneliti dan lembaga-lembaga penelitian, termasuk peneliti Universitas. Hasil-hasil dan perolehan tersebut membuat petani lebih percaya diri dan ingin disejajarkan dengan kelompok peneliti profesional yang bekerja di lembaga-lembaga penelitian pertanian dan universitas. TETAPI sayangnya, Petani yang sudah lulus SL-PHT biasanya malas menerapkan ilmu yang telah didapat dari Pelatihan SL-PHT, misal membuat ekstrak racun dari tanaman untuk hama, membuat pestisida organik, memperbanyak jamur yang berguna seperti Gliocladium, Trichoderma, Beauveria bassiana, Virus Spodpter sp. , dll. Karena memang sifat petani kita yang kebanyakan penginnya yang siap saji (instan), langsung bisa digunakan, praktis, ekonomis dan tidak merepotkan.

Untuk itu Natural Nusantara ( NASA ) mencoba menjembati Konsep PHT dengan SL-PHTnya yang luar biasa dengan menciptakan produk-produk yang ramah lingkungan atas dasar penalaran dan prinsip-prinsip PHT adalah : budidaya tanaman sehat, lestarikan dan manfaatkan musuh alami, pengamatan ekosistem berkala, dan petani sebagai ahli PHT. Teknologi NASA yang praktis dan siap pakai seperti PESTONA, PENTANA, Natural GLIO, Natural BVR, VITURA, VIREXI dan Metilat LEM. NASA juga ingin membantu program pemerintah dengan memberikan pendidikan kepada petani NASA lewat trainingptraining khusus SL-PHT supaya pola pikir, mental, motivasi , ilmu pengetahuan dan teknologi bisa lebih diberdayakan. Dengan teknologi NASA kita bisa memanfaat hasil penelitian yang telah diteliti di akademis untuk digunakan langsung secara praktis dan siap pakai serta ekonomis bagi para petani. Alhamdulillah kurang lebih 7 tahun berkarya NASA telah mampu membuktikan dan merealisasikan kepada petani-petani NASA minimal 5 aspek dasar :
1. Aspek Pendidikan. Kami bisa menjalankan layanan konsultasi, dan kurikulum pendidikan dan pelatihan utk up grade skill, mental, motivasi, pola pikir.

2. Aspek Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Siapapun, di manapun, latar belakang apapun bisa mengakses peluang dan kesempatam bisnis yang bisa upgrade modal dan pendapatan. Dan petani tidak selalu jadi objek, tetapi bisa jadi subjek bisnis.

3. Aspek Lapangan Kerja. Sekecil apapun kontribusi kami tetapi kami telah berbuat membantu mengurangi pengangguran yg menjadi masalah di negeri ini. NASA mampu menyerap paling tidak 5% bahkan lebih dari total pengangguran

4. Aspek Keadilan. Prestasi menjadi syarat mutlak utk sukses di NASA, bukan karena kapital maupun power/kekuasaan sebagai penentu kesuksesan.

5. Aspek Nasionalisme. Kami membuktikan produk dalam negeri tidak selalu kalah dengan produk luar negeri, Kami membangun sistem yang bisa membentengi / mencegah keluarnya devisa negara akibat menggunakan produk luar negeri.

Mudah-mudahan penerapan konsep PHT dan NASA bisa sebagai alternatif solusi untuk meningkatkan pemberdayaan petani Indonesia, sehingga bisa mewujudkan Indonesia makmur raya yang berkeadilan. Sukses untuk petani-petani NASA.

HUKUM FISIKA

Foto: HUKUM FISIKA; tidak ada 2 (dua) hal yang bisa berada dalam 1 (satu) tempat pada waktu yang bersamaan.....

Kita harus mengusir PIKIRAN NEGATIF untuk mengembangkan PIKIRAN POSITIF.
Add caption
HUKUM FISIKA; tidak ada 2 (dua) hal yang bisa berada dalam 1 (satu) tempat pada waktu yang bersamaan.....
Add caption

Kita harus mengusir PIKIRAN NEGATIF untuk mengembangkan PIKIRAN POSITIF...

CARA JITU ATASI MAREK AYAM

CARA JITU ATASI MAREK AYAM

5 Januari 2014 pukul 13:19
Mengahdapi Penyakit Marek Pada Ayam

 Penyakit Marek tidak pandang bulu. Ayam ras petelur maupun ayam ras pedaging diserang. Namun untuk kenal tanda-tanda penyakit Marek butuh jam terbang. Kerugian ekonomis yang disebabkan oleh penyakit Marek adalah:
1) Mortalitas/angka kematian tinggi (dapat mencapai 30% atau lebih);
2) Pengafkiran ayam lebih dini;
3) Produksi telur buruk;
4) Penampilan umum buruk dan
5) Biaya vaksinasi dan tenaga kerja. Penyakit Marek menyerang organ dalam tubuh ayam.

penyakit ND
penyakit ND
Penyebabnya adalah virus Marek.
Ayam muda mati secara cepat dan angka kasusnya tinggi. Kini, yang menyerang adalah penyakit Marek bentuk ringan. Berbagai catatan lapangan menunjukkan ayam bisa terserang pada umur 4 minggu atau lebih. Paling banyak pada umur 12 14 minggu. Ayam yang terserang organ dalamnya secara akut (mendadak) sebagian besar depresi sebelum mati. Sebagian tanpa gejala tertentu.    

Gejala umum terserang Marek adalah:
Kelumpuhan pada satu atau dua kaki atau sayap, ayam mengalami dehidrasi (kehilangan cairan tubuh) sehingga ayam menjadi kurus kering, Proventrikulus mengalami tumor, limpa, hati dan ginjal membesar, kepala yam bisa menggantung dan meluntir, tembolok melebar dan sulit bernafas, pucat, berat badan turun, tidak punya nafsu makan dan diare.

Organ ayan yang terserang ND
Organ ayan yang terserang ND
Salah satu pembawa penyakit Marek dan penyakit lainnya pada ayam, seperti :
  • Salmonelosis,
  • Cacar ayam,
  • Koksidosis dan
  • ND (Newcasle disease) yaitu hewan kumbang.

Virus Marek yang betah pada lingkungan buruk, 'dipelihara' oleh kumbang dalam tubuhnya. Ketika dikonsumsi oleh ayam, kumbang membawa kuman penyakit ini. Dengan mudah bibit penyakit Marek pindah dari tubuh kumbang ke tubuh ayam. Marek pun menjalar. Munsulnya kumbang di peternakan, sangat mudah terjadi. Kumbang dewasa maupun larva (yang dikenal sebagai cacing penghancur tanaman) sangat menyukai pakan unggas, padi-padian dan biji-bijian yang basah, lembab, berjamur dan kondisinya buruk. Tempat yang disukai adalah litter yang kondisinya buruk, basah dan lembab sangat mudah menjadi sarang penyakit, ataupun vektor pembawa bibit penyakit seperti cacing, tungau, kutu caplak. Kumbang juga sangat suka bersembunyi pada celah-celah sempit antar ruas-ruas kayu kandang pemeliharaan kandang.

Untuk mengatasi kumbang penyebar virus Marek dan kuman penyakit yang lain ini,peternak harus memperketat biosekuritas dan sanitasi/kebersihan lingkungan. Ada yang mencuci kandang dengan desinfektan pembunuh ektoparasit. Mereka juga membabat rumput sekitar kandang, karena bisa menjadi tempat 'mangkal' kumbang yang tak terduga. Kumbang suka makan sisa-sisa tanaman dan bahan oraganik lainnya. Dengan kata lain, para peternak harus menghilangkan atau membasmi kumbang dari kandangnya.

Cara pencegahan terhadap penyakit Marek dan penyakit lain, selain dengan
  1. menjaga kebersihan/sanitasi kandang dengan memperketat biosekuritas,
  2. meningkatkan kekebalan tubuh ayam dengan melakukan vaksinasi Marek dan
  3. pemberian pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ayam secara lengkap.

Viterna merupakan pakan tambahan yang sangat tepat bagi ayam, karena mengandung protein, vitamin dan mineral yang sangat berperan dalam menjaga kestabilan metabolisme tubuh ayam, sekaligus Viterna berperan dalam mempercepat pertumbuhan ayam sehingga produktivitas ayam dapat maksimal. Dosis pemberian Viterna adalah 1 tutup botol Viterna dicampurkan 10 liter air minum diberikan setiap hari untuk ayam pedaging, dan setiap 3 hari sekali untuk ayam petelur.

SARAN: akan lebih bagus jika VITERNA PLUS dikombinasikan dengan produk nasa lain yakni POC NASA dan HORMONIK

HARGA sebagai berikut beserta wilayah:
  1. Harga POC NASA 500CC :Rp.31.000 (jawa) Rp.35.500 (wilayah I); Rp.37.500 (wilayah II); Rp. 39.500 (wilayah III); Rp.45.500 (wilayah IV)
  2. Harga Hormonik 100CC :Rp.26.000 (jawa) Rp.27.500 (wilayah I); Rp.28.500 (wilayah II); Rp. 30.000 (wilayah III); Rp.33.000 (wilayah IV)
  3. Harga VITERNA PLUS 500CC :Rp.41.000 (jawa) Rp.45.000 (wilayah I); Rp.47.500 (wilayah II); Rp.48.500 (wilayah III); Rp.54.500 (wilayah IV)
  • WILAYAH JAWA (jawa),
  • WILAYAH I: Ujung Pandang, Lampung, Palangkaraya, Bali, Banjarmasin, Balikpapan, Bengkulu, Palembang, NTB,Tanah Bumbu, Amuntai, banjarbaru.
  • WILAYAH II: Kendari, Pontianak, Samarinda, Pekanbaru, Jambi, Padang, NTT, Medan, Bontang, Muara Teweh, Tarutung, Perawang, Tanah Grogot, Konawe, Kuala Kapuas, Pangkal pinang ( udara ), kepri, palopo, luwu, tanah laut, Barabai, batu licin.).
  • WILAYAH III: Palu, Toli-toli, Manado, Ambon, B. Aceh, ketapang, Kutai Barat, Berau, Sanggau, Tarakan, Sintang,Tanjung pinang / batam (udara), malino, tamiang layang, bengkayang, buntok, barito selatan.
  • WILAYAH IV: Jayapura, Manokwari, Sorong, Merauke, Maluku Utara)

Informasi Selangkapnya : Sms / Telepon :081904269636 / 082138128114
                                      wspp 88806018424 (smart frenn) Pin BB 313061C3

SEDIA : PESTISIDA ORGANIK, PUPUK ORGANIK, PERANGKAP LALAT BUAH-Metilat; PEREKAT-PEMBASAH AERO-810, NPK ORGANIK, PUKAN SIAP PAKAI SUDAH PACKING, BIBIT TANAMAM BUAH, BIBIT TANAMAN TAHUNAN, BENIH TANAMAN SEMUSIM, KETELA; TEKNIS BUDIDAYA DALAM BENTUK BUKU, LEAFLET DAN CD.

Selasa, 03 Desember 2013

UPGRADE PANEN PADI

upgrade panen Padi (tanaman pangan) 25%-125% adalah fakta:
---------------------
Tinggal kita mau atau tidak memanfaatkan teknologi ini, kenapa justru negera tatangga yang meminta untuk aplikasi dinegaranya.
anakan padi yang rata2 nasional 13-15 anakan dgn asumsi panen 5,5Ton/ha, mampu kita upgrade 100% - 200% dengan anakan rata2 40-60 anakan dengan target panen 10ton, 12ton, 15ton, 20ton bahkan kita telah mampu menghasilkan 26ton/ha...

BANGKITLAH... AGROKOMPLEK INDONESIA